Hidupnya Buku Bajakan, Matinya Penulis

105 views

Hidupnya Buku Bajakan, Matinya Penulis

Pertumbuhan ekonomi kreatif sejak awal tahun ini melebihi sektor industri utama atau mencapai 5,76 persen. Namun, salah satu sektor ekonomi kreatif yaitu penerbitan dan percetakan belum optimal tumbuh lantaran masih marak pembajakan buku. Penulis menjadi pihak paling dirugikan dalam pembajakan buku.

VARIA.id, Jakarta – Buku karangan Asma Nadia yang berjudul “Surga yang tak Dirindukan” dipajang di hampir sepanjang lapak buku di lantai bawah Blom M Square, Jakarta Selatan. Buku yang sudah diangkat ke layar lebar, hampir sebagian besar mengisi tumpukan buku-buku yang dijual di salah satu pusat buku murah di Jakarta ini.

Namun, yang membuat dahi berkernyit, hampir seluruh sampul dari buku karangan Asma Nadia ini berwarna pudar. Bukan cuma itu. Sedikit saja terkena hentakan saat disibak, kertasnya mudah sobek karena saking tipisnya. Teksnya masih bisa terbaca, meski pada sejumlah halaman cetakannya tak segaris dengan potongan kertas.

Seorang pedagang buku pun menegaskan penawarannya tanpa segan-segan. “Bagus tuh neng, sedang laris. Tiga puluh ribu rupiah saja,” katanya sambil memegang buku berjudul ‘Surga yang tak Dirindukan’, Jumat 14 Agustus 2015.

Dahi ini makin berkernyit. Sebab jika dibandingkan dengan harga asli buku tersebut di sebuah toko ritel buku nasional lebih murah lebih dari 50 persen.

“Masih bisa kurang harganya,” tambah penjual itu sambil terus menyodorkan bukunya.

Transaksi pun terjadi setelah pembeli menawarnya seharga Rp 25 rbiu. Saat itu juga, sebuah buku bajakan telah berpindah tangan dari pedagang ke konsumen.

Kualitas seadanya dan harga murah menjadi tawaran menarik bagi siapa saja untuk membeli buku di lapak-lapak lantai bawah Blok M Square. Buku-buku bajakan yang dijual pun berasal dari penulis ternama. Sebut saja, Andrea Hirata, Dewi Dee Lestari, Raditya Rika, Tere Liye, Asma Nadia, Rhenald Kasali, Quraish Shihab, dan Ippho Santosa. Buku-buku non-fiksi sampai kitab suci pun bentuknya serupa.

Varia.id pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan salah satu pedagang buku bajakan yang namanya tak mau disebutkan. Lelaki asal Sumatera Barat ini mengakui sirkulasi penjualan buku bajakan lebih cepat ketimbang buku asli. Sebab, harganya murah. “Apalagi kalau ada novel yang difilmkan. Penjualannya lebih cepat, ,” katanya, kadang ia pun menggunakan rental mobil murah untuk memuat buku dagangannya ke lapak lapak buku di Jakarta.

Kata dia, buku-buku non-fiksi seperti buku pelajaran, buku terjemahan bahasa asing, dan kitab suci juga sebagian besar adalah bajakan. “Memang tak selaris buku jenis novel Indonesia. Tapi yang penting kalau orang cari ada barangnya,” cetusnya.

Saat ditanya dari mana ia memperoleh buku-buku bajakan itu, ini reaksinya. “Enggak tahu, ini diantar orang kok. Langsung diantar ke sini, jadi saya tinggal jual,” katanya terbata-bata.

Kebanyakan pembeli buku novel bajakan Indonesia adalah kaum hawa. Mulai dari perempuan remaja hingga wanita perkerja, ataupun ibu-ibu rumah tangga.

Penjualan buku bajakan juga tak kenal musim. Penjualan bisa melonjak tinggi ketika seorang penulis yang memiliki banyak penggemar baru saja meluncurkan buku terbarunya. Saat itu para pedagang bisa meraup laba melebihi hari-hari biasa.

“Sebenarnya saya ambil untung sama saja dengan jualan buku yang asli. Walaupun bajakan, kalau harganya saya lebihin sedikit nanti kan bisa-bisa dia beli di tempat lain,” ungkap lelaki yang mengaku berjualan buku bajakan sejak 2012. Ia pun enggan menyebutkan berapa omzet yang ia peroleh dari buku-buku tersebut.

Buku bajakan tetap laris manis lantaran punya pasar tersendiri. Para penikmat buku yang enggan merogoh kocek lebih dalam, memilih untuk membeli buku bajakan ketimbang buku cetakan dari penerbit resmi.

 

Leave a reply "Hidupnya Buku Bajakan, Matinya Penulis"

Author: 
    author